
Lagi-lagi soal halal haram makanan. Lagi-lagi Hoka Hoka Bento. Basi banget ya?
.
Eits nanti dulu donk.. memangnya sudah ada upate status halal haram Hokben oleh MUI? Saya coba googling kok info-nya ya kira-kira masih aja seperti ini, belum ada kabar baru. Apa positif haram, atau malah, good news, sukses dapat sertifikat halal dari MUI. Masih membingungkan.
Terus kenapa emangnya? Kenapa mesti repot? Tinggal gak usah makan dulu, beres kan? Bener? Hmm.. ternyata gak segampang itu juga sih.
Oke lah, untuk mesen atau makan langsung di Hokben bisa ditahan dulu. Atau misal ada pilihan menu lain yang tersedia, pilih yang lain yang gak ‘kontroversial’ statusnya. Tapi di lapangan tidak jarang ada kondisi-kondisi yang pilihannya tidak sesederhana itu: take it or leave it. Tidak ada pilihan lain. Contohnya: 1) Acara di tempat pihak luar, di tengah acara rehat sejenak untuk segera lanjut lagi. Office boy dateng, bawanya Hokben. Semuanya langsung makan, nah lho? 2) Training di luar kantor. Waktunya rehat, di meja cuma ada Hokben. Mau cari yang lain?
Mungkin kalau statusnya sudah jelas haram gak jadi soal. Kita juga gampang untuk ’berbagi informasi’ ke tuan rumah. Tapi ketika statusnya sendiri masih simpang siur, terus terang menjadi tidak sesederhana itu. Menjaga diri dengan tidak makan? Tidak selesai di situ. Konsekuensinya jelas selain lapar: membuang (mubazir) atau memberikan ke orang lain untuk memakan yang kita sendiri tidak mau makan, bahkan bisa jadi memberi kesan ”kurang baik” ke rekan yang memilih untuk makan. Yang lebih substansial, sadar atau tidak kita sudah memberi vonis haram pada makanan yang hukum dasarnya adalah halal. Padahal, sekali lagi, belum jelas kalau itu haram.
Terus bagaimana donk? Terus terang kalau dalam kondisi ‘gak gampang’ seperti itu, saya ’mengalah’ memakan menu yang disajikan tuan rumah. Alasannya? Hmm.. kira2 saya sependapat dengan pendapat Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. Menurut saya, jawaban beliau cukup berimbang dan landasannya cukup kuat.
Intinya, secara fikih selama belum jelas Haram, kita masih boleh memakannya. Tentu dengan terlebih dulu membaca doa, seperti yang disabdakan Rosulullah SAW. Tapi tentu saja dengan tetap ikhtiar menjaga diri.
Walloohu a’lam
Update: MUI: Hoka Hoka Bento Halal
Terima kasih atas tulisannya, sangat membantu. Kebetulan saya menghadapi salah satu kondisi yang dipaparkan pada tulisan saudara.
kayaknya situasi kayak giu sering banget ya kita hadapi, termasuk saya persis sering berada pada kondisi begitu.
Kalau saya, ngeliat info hokben yg simpang siur dan status terakhir MUI mensyubhatkan pada tahun 2004 atau 2005 an, saya memilih untuk mencari makanan yang lain tanpa mengharamkan hokben. Saya akali dengan lobby2 pantry dan tuan rumah kalau sedang berkunjung, buat nyelipin makanan non hokben sebelum dipesan, yg saya lebih yakini, alhamdulillah bisa
Yang dicontohkan Ust. Ahmad Sarwat tentang sahabat RAsululloh yang diberi daging oleh suatu kaum, kasusnya pas tidak pas dengan Hokben. Hokben adalah perusahaan bonafit berdomisili di negara yang di sana terdapat lembaga yang concern soal kehalalan. Sehingga kesubhatan Hokben jadi double. 1 masalah barang yg tak bisa dibuktikan secara ilmiah keharaman 2. keengganan hokben mensertifikasi halal (ini big question-nya). Kalau sudah double subhat gini, InsyaAlloh saya berusaha menjauhi sebisa mungkin. Tapi kalo saya tiba-tiba dikirimi daging oleh tetangga, saya akan ikuti pendapat Ahmad Sarwat. Wallahualam.
# rekan Novi, saya sependapat bahwa “keengganan” Hokben mensertifikasi halal merupakan big question. Oleh karena itu, meskipun sebelumnya hokben menjadi salah satu favorit saya, sejak heboh berita itu saya sendiri tidak pernah memesan apalagi makan langsung di sana. Begitu juga di kantor, saya sudah sampaikan masukan soal status “subhat” hokben. Hanya saja, tidak jarang ada kondisi-kondisi yang membuat kita dalam posisi seperti yang saya tulis. walloohu a’lam.
Nah kabar terbaru lagi adalah, di web mereka sekarang terpampang lebel HALAL dari MUI, tapi jujur saja saya belum liat di tempatnya.
Nggak tahu deh apakah ini yang dimaksud dengan selalu saja ada alasan ke Hokben?
Pagi ini saya dikagetkan oleh iklan Hoka Hoka Bento yang telah mencantumkan label halal. Bagaimana tidak kaget. Bertahun-tahun lamanya produsen makanan tersebut bergeming tidak mau mencantumkan label halal. Tidak jelas alasannya, padahal jutaan ummat Islam Indonesia banyak yang sudah terlanjur menyukai makanan tersebut, termasuk saya. Namun sejak heboh tentang ketidakjelasan tentang kehalalan produk tersebut, saya sudah lama berhenti mengonsumsi makanan tersebut. Selamat dan terima kasih kepada Hoka Hoka Bento yang akhirnya mau mencantumkan label halal. Semoga dapat memelihara kejujuran tentang keputusan tersebut. Saya lebih percaya lagi kepada kejujuran MUI, karena sudah tentu, sertifikat dan label halal yang diberikan atas dasar bukti-bukti bukan hanya administratif tapi juga hasil pemeriksaan faktual di lapangan.
Sore ini saya sudah bisa mengajak teman makan di Hoka Hoka Bento lagi sebagai ungkapan rasa bahagia atas kesadaran produsen makanan tersebut yang mulai sadar akan pentingnya kehalalan produk bagi ummat islam. Bagaimana dengan produk makanan lainnya?
yang penting enak,gurih dan mengenyangkan perut yang kosong,iya ga?yg penting kelakuan kita ga haram….
Assalamualaikum…
Tapi kalau dari MUI sendiri sudah menerbitkan sertifikat halalnya….
http://www.hokahokabento.co.id/?mod=news&opt=vwDet&cid=10&id=29
Check it out..
barusan liat lagi ke websitenya hokben
http://www.hokahokabento.co.id/?mod=news&opt=vwDet&cid=10&id=29
semoga bisa membantu.
kalau saya sendiri baruuuu aja tadi malem ke hokben setelah sekian lama hu hu hu akhirnya…